Pontianak, Mei 2025 — Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Pontianak, Nisrina Syafaria Mufida, berbagi pengalaman berharga mengikuti program Asistensi Mengajar (MBKM) di perbatasan Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Dalam podcast di kanal YouTube UM Pontianak, Nisrina menceritakan kisahnya selama empat bulan menjalani program Asistensi Mengajar di SDN 01 Aruk bersama 14 mahasiswa lainnya dari berbagai program studi, seperti Biology Education, Kimia, dan Pendidikan Agama Islam.
“Awalnya saya cukup culture shock, karena tinggal di lingkungan yang sangat berbeda dengan kehidupan kota. Kami harus menyesuaikan diri dengan keterbatasan akses, seperti sinyal yang minim dan transportasi terbatas. Bahkan, selama sebulan pertama, kami tidak punya motor. Kalau mau beli sayur atau kebutuhan harian, harus jalan kaki cukup jauh,†ungkap Nisrina dalam wawancara tersebut.
Meskipun berasal dari program studi PG PAUD, Nisrina membuktikan bahwa guru PAUD juga mampu mengajar di sekolah dasar, khususnya untuk kelas 1, 2, dan 3. Menurutnya, pengalaman mengajar langsung di lapangan ini menjadi pelajaran yang sangat berharga dan membuka wawasan tentang realita pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
“Banyak hal yang tidak kita temukan di ruang kuliah, tetapi kita rasakan langsung di lapangan. Kita belajar menghadapi karakter anak yang berbeda-beda, belajar komunikasi dengan guru-guru setempat, dan mengenal budaya masyarakat lokal. Semua itu menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya,†tambah Nisrina.
Selain kegiatan mengajar, Nisrina juga aktif mengikuti berbagai kegiatan masyarakat di desa, termasuk menjelajahi keindahan alam perbatasan Aruk. Ia menceritakan bagaimana kehangatan masyarakat setempat membuat mereka merasa diterima dengan baik, meskipun berada di lingkungan yang mayoritas non-Muslim.
Program Asistensi Mengajar MBKM ini juga didukung penuh oleh kampus. Mahasiswa peserta mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp1.200.000 per bulan selama empat bulan, serta kemudahan konversi nilai akademik.
Di akhir wawancara, Nisrina memberikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak ragu untuk mengikuti program serupa.
“Kalau ada kesempatan, jangan sia-siakan. Pengalaman ini bukan hanya sekadar mengajar, tapi juga belajar menghadapi kehidupan nyata dan memahami arti kebermanfaatan kita sebagai calon guru.â€
Semoga kisah Nisrina menjadi inspirasi bagi mahasiswa FKIP UM Pontianak untuk terus semangat belajar, mengabdi, dan memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia, khususnya di daerah 3T.